Assalamu'alaikum..
Aku tak pernah tau bahwa jalan kehidupanku bisa berada di titik ini. Tiada yg kebetulan, melainkan telah Engkau gariskan untuk ku. Aku sangat bersyukur dg keadaanku saat ini, dan berharap saat aku mati nanti, dalam keadaan keimanan yg lebih baik atau minimal seperti saat sekarang. Meski nikmat dunia nyaris tak aku punya, namun hal tersebar yg selama ini tak aku dapatkan adalah "merasakan manisnya iman, manisnya ibadah".
Allah uji hambanya tak lain karena Dia ingin angkat derajatnya.
Pernah suatu kali aku menonton kisah seorang muallaf yg bercerita ttg perjalanannya menemukan hidayah. Banyak yg berubah dari dirinya setelah ia memeluk Islam, ia menjadi lebih lembut kpd ibunya. Namun, Ibunya selalu menangis karena tidak rela anaknya meninggalkan agama lamanya. Lalu dia berkata "bu, apakah saya harus kembali ke agama ini lagi bu agar ibu bahagia?"
Ibu nya kemudian menjawab "jangan, jika kamu sudah tekad pd keyakinan mu yg sekarang, maka buktikanlah bahwa kau akan lebih baik."
Pelan-pelan ia mendalami Islam, dan mulai shalat berjamaah ditempat kerjanya. Suatu kali ia dan rekan2 kerjanya akan meeting. Sekian lama menunggu kepala divisi belum datang juga pdhl sudah masuk waktu shalat. Akhirnya ia putuskan keluar sebentar utk melaksanakan shalat. Saat ia kembali, ternyata meeting sdg berlangsung dan tak ayal ia pun disemprot oleh atasannya.
Selepas kejadian itu, ia berdoa kpd Allah. "Ya Allah, aku ingin pekerjaan dimana aku senantiasa bisa shalat berjamaah diawal waktu". (MasyaAllah) Ia mantap memutuskan resign dari pekerjaannya.
Di ujung cerita dia berkata
"Engkau boleh ambil apa saja ya Allah dariku, asal jgn keimanan ku."
Kalimat ini membuat ku tak kuasa menahan air mata. Nikmat dunia yg hanya bisa dirasakan sesaat, selalu saja menjadi prioritas dan membuat kita lalai.
Banyak org yg masih ingin hidup kemudian Allah ambil nyawanya sebelum mereka mengambil hidayah, maka alangkah ruginya kaki yg telah berpijak di bumi Allah ini. Padahal jika dibayangkan, jangankan siksa neraka, siksa kubur pun tdk akan kuat kita merasakannya. (Mudah-mudahan Allah jauhkan kita dr siksa kubur dan siksa neraka, aamiin)
"Banyak yg diberi petunjuk oleh Allah, banyak pula yg disesatkan-Nya."
Satu hal yg harus dipahami dari ayat ini, kadang seseorang merasa bahwa hidup berkubang dlm kemungkaran itu adalah takdir Allah (maksudnya disesatkan). Ini tidak benar dan harus diluruskan. Karena ada takdir yg memang tidak bisa kita tolak, tapi ada takdir dimana kita bisa dengan bebas memilih. Sehingga nanti diakhirat tidak ada satu orangpun yg mengingkari bahwa hidayah dan kebenaran belum sampai kepadanya, dialah yg tidak mau menerima atau mengingkari hidayah itu. Maka ayat diatas ditutup dengan kalimat.
"Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang yg FASIK."
fasik adalah orang yg sudah tau kebenaran tapi tidak mau menerima. Sudah tau hal-hal yg Allah larang, tapi dia tetap melakukan. Sudah tau apa yg Allah perintahkan, tapi dia tidak mau dan malas mengerjakan. Gambaran dari orang-orang seperti ini Allah sebutkan dalam AlQur'an sebagai orang yg buta penglihatannya, tuli pendengannya, dan buta pula mata hatinya melihat kebenaran (penderitaan yg komplit). Nadzubulillah, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan org-org tsb.. aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar