Kenapa Dua Kali ?
Tulisan ini saya kutip dari fanpage "Sekolah Pernikahan".
Kenapa saya posting ulang ? Yap, ada banyak kemiripan dikisah ini dengan kisah hidup yg saya alami meskipun tidak sama persis. Dan saya berharap saya akan terus mengingat kisah ini jika suatu saat saya terlena dan terlupa. Dan semoga ada hikmah yg bisa saya ambil dari kisah ini, yg mungkin juga terjadi di hidup anda..
Ditulis oleh Miss Espi, yang dikutip dari pengalaman seorang teman.
Saya adalah seorang gadis dengan usia kepala 3, waktu saya kuliah, saya mengenal dan mengagumi sosok senior saya, Jenius dan Lucu, itu adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan dia.
Ya saya hanya bisa menikmatinya sebatas memandang. Ya Allah… rupawannya sosok ini, kataku dalam hari setiap kali melihatnya. Pada saat awal pertengahan kuliah, kami dipertemukan dalam keadaan intens, yah karena saya mengikuti kegiatan kampus yang didalamnya ada dia sebagai salah satu pengelolanya. Kami biasa ngobrol tentang kuliah, tentang pola komunikasi, bahkan tentang kami. Kami saling menjajaki, satu sama lain. Hingga suatu hari saya berkata “sepertinya dia cocok menjadi pasangan hidup saya”…
Masa berlalu kami pun sibuk dengan aktivitas perkuliahan kami, hingga suatu hari kami dipertemukan lagi dalam suasana obrolan yang semakin serius. Kami mebicarakan tentang tugas suami dan tuga istri. Kami berdiskusi panjang lebar, bagaimana peran suami dan bagaimana peran istri serta semua pengelolaan dalam rumha tangga, termasuk sikap apa yang diambil jika pasangan kita nantinya berada dalam posisi yang salah. Bagaimana nantinya berproduksi untuk menghasilkan uang. Ya mungkin karena dia seorang aktifis kampus jadi dia suka berdiskusi.
Dan ditengah pembicaraannya dia pun bilang, “Saya ingin sekali memperistrikanmu”. Hati saya serasa melambung, jantung saya berdegup kencang dan saya tersipu malu. Nampaknya perasaan saya bersambut, itu yang terlintas dibenak saya… Saya pun masih belum bisa menggerakkan bibir saya setelah mendengar dia berucap demikian. Cupid sedang mengelilingiku…
Pada saat kami hendak berpisah, tiba-tiba mata kami beradu, dan ada pesan yang tersembunyi dibalik tatapan itu… Sedih, keragu-raguan, takut, entah lah…. Saya mencoba untuk membaca pesan itu tapi kami pun saling melepas pandangan. Pada saat saya pulang, tatapan itu terus mengikuti saya. Saya hanya bisa bilang dalam hati, dia kenapa yah?.
Suatu pagi saat saya ke kampus…
Saya mendapat titipan surat dari teman saya. Yang ternyata surat itu dari dia. Isinya singkat “Temui saya di bandara, hari jumat jam 2 siang”. Dengan senyum penuh makna sayapun berbinar-binar membacanya, senang sekali. Hari tersebut mulai dari pagi saya sudah merasa berbunga-bunga, karena saya akan bertemu dengannya. Bertemu dengannya adalah hal yang membahagiakan saat itu, karena kami memang jarang bertemu… Dan pada saat dibandara saya disambut dengan wajah yang aneh… Ekspresi senang, tapi matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam, bahkan sesekali dihiasi oleh air mata disekitar bola matanya. Sesaat firasat saya menjadi buruk, saya jantung saya berdegup kencang. Entah dari mana datangnya tiba-tiba ketakutan pun melanda. Kalimat pembuka darinya Apa kabar?…, sayapun membalas dengan mengatakan baik-baik saja.
Ditengah kebisingan dibandara, kami pun ngobrol tentang aktifitas dikampus, dan disaat kami ngobrol sesekali ia melihat jam tangannya, mungkin karena sudah mendekati waktunya boarding. “Kamu baik-baik yah” katanya
“Pasti” jawab saya
“Terima kasih atas pertemuan yang sudah tercipta, terima kasih atas semua obrolan yang menyenangkan bersamamu”
sesaat tiba-tiba hening, saya pun bingung nih orang mau kemana yah… Seolah dia mendengar ungkapan saya dalam hati lalu diapun melanjutkan pembicaraannya…
“Saya mau pulang kampung, saya akan menikah”
Jebret… saya pun tak kuasa mendengan perkataannya tiba-tiba ditengah kebisingan bandara sayapun merasa budeg, shock, kaki saya serasa lemas tak mampu menguasai raga ini. Mata saya sudah hampir dipenuhi air mata, namun saya menahannya agar tidak jatuh, saya tidak mau menangis didepannya. Untung sesaat saya bisa menguasai keadaan. Saya menguatkan hati saya dengan berkata dia kan memang bukan siapa-siapa saya. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa, dan nampaknya diapun sedang berjuang untuk menahan air matanya. Dan dia pergi… tanpa mengucapkan salam perpisahan. Sakit banget rasanya… tapi saya selalu bilang pada hati saya, diakan memang bukan siapa-siapa saya.
Ya Allah… kenapa ini terjadi padaku… Ingin rasanya membencinya tapi saya tidak punya alasan untuk melakukannya, karena dia memang bukan siapa-siapa saya… Hari berlalu… bulan berganti… tahun pun bertambah… Saya berjuang untuk melupakannya… Saya pun meninggalkan kota ini, pergi mencari suasana baru di kota lain. Saya mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu kota di Sumatra Barat, kota yang belum pernah saya singgahi. Saya pun asyik dengan dunia dan kehidupan saya. Waktupun mampu mengikis semua perasaan sedih saya. Saya mendapati diri saya dalam ekspresi yang baru, yang lebih ceria dan senantiasa bersyukur atas apa yang saya jalani. Nilai kehidupan yang saya dapat dari pengalaman saya adalah saya lebih realistis melihat segala permasalahan dari kacamata fakta.
8 tahun berlalu dari kejadian itu…
Saya pun bertemu dengan teman saya waktu kuliah di salah satu kota di Jawa Timur, yah kami membahas masa-masa kuliah kami, satu persatu teman kami pun menjadi topik pembicaraan kami. Hingga tiba saatnya dia bilang “Kamu inget Si A nggak? itu loh senior kita yang keren dulu”. Deg… Saya tau yang dibicarakannya adalah orang yang pernah ada dimasa lalu saya.
“Iya, tau kenapa?” jawab saya
“Kasihan loh istrinya meninggal, anaknya 3 masih kecil-kecil”
“Inalillahi wa inna ilaihi raji’un” spontas saya menjawab
“Kasihan anak-anaknya, masih kecil sudah ditinggal ibunya” kata teman saya
“Iya kasihan banget… mereka”
Dan pikiran saya pun melayang kemana-mana…
Tahun lalu saya pulang kekampung saya, saya main kekampus bertemu dengan beberapa teman disana, karena beberapa teman saya menjadi dosen dikampus tersebut. Saya hanya ingin bersilaturahmi dan temu kangen ama teman-teman saya…
Deretan cerita masa kuliah pun menghiasi pembicaraan kita mulai dari ospek sampai wisuda, dan kembali teman saya pun mereview satu per satu teman kami. Dan entah kenapa nama dia selalu ada dalam deretan orang-orang yang masuk dalam pembahasan setiap kali saya bertemu dengan teman-teman saya. Dan entah kenapa juga pada saat kami membicarakannya dia pun menelpon pada teman saya. Kebetulan yang sangat lucu… Ternyata diapun masih sering telpon ke teman-teman dikampus, hingga akhirnya teman saya menyodorkan hpnya dan berkata nih Si A mau bicara. Haduh… semua memori pun bangkit kembali… Dia mananyakan kabar saya, dan dia minta kontak saya. Atas nama silaturahmi saya pun memberikannya, toh saat ini pun saya sudah menikmati dunia saya.
Suatu hari dia menyapa saya di chat fb… Kami pun cerita panjang lebar…
Tapi karena waktu telah lama berlalu, saya pun sudah biasa saja jika berkomunikasi dengannya.
Setiap apa yang posting di fb diselalu me-like nya, dan sesekali berkomentar.
Dan sore itu, dia pun membangkitkan semua kenangan masa lalu. Senang… sekali rasanya, karena dia masih semua apa yang kami bicarakan, apa yang saya kenakan, kejadian lucu yang terjadi masa itu. Dan begitulah seterusnya… komunikasi kami mulai interns, membahas tentang anaknya, pekerjaannya, bisnisnya, dan aktifitasnya keseharian.
Hingga diapun berkata saya merindukanmu…
Saya selalu terdiam pada saat dia menuliskan hal tersebut…
Kenangan demi kenangan pun bangkit kembali, hingga saya mengenal persis apa yang saya rasakan, perasaan yang sama waktu saya masih kuliah dulu. Perasaan saya pun bahagia, kami pun kembali berdiskusi baik telpon maupun message. Maklum kami jarak kami dipisahkan oleh lautan yang luas, sehingga komunikasi kami pun hanya sebatas itu. Tidak pernah bertemu.
Suatu malam dia memberi saya kabar kalau dia akan ke kota saya, karena dia lagi ada kerjaan sesaat disini. Senangnya luar biasa mendengar kabar itu, tak sabar rasanya ingin melihatnya dan berkomunikasi langsung dengannya. Setelah belasan tahun kami tidak bertemu. Malam berikutnya pun kami kembali ngobrol via line dan begitulah malam-malam setelahnya. Mendekati hari disaat dia mau kekota ini, dia sudah tidak kuasa menahan kerinduannya pada saya, hingga tidak sadar kata-kata mesra pun terucap melalui deratan kata-kata di di line.
Oh Tuhan… tiba-tiba saya ingin menjadi ibu atas anak-anaknya, yang hanya saya kenal melalui cerita.
Tapi perasaan itu sirna tiba-tiba, pada saat dia menuliskan “saya punya calon istri dan kenapa kita dipertemukan disaat saya akan menikah”
Dan perasaan saya waktu dibandara terulang lagi…
Oh… bodohnya saya… kenapa bisa jatuh dilubang yang sama…
Saya kembali tertipu dengan perasaan saya.
Dia pun mengatakan betapa pedihnya perasaanya saat ini, dan betapa ingin dia melompat kemasa dimana dia benar-benar sendiri dan ingin mengejar saya untuk dijadikan istri. Saya hanya bisa berkata dalam hati “hallo kemana ajah”, itulah kalimat paling cuek saya, tapi kali ini sakit yang saya rasakan pun tidak berkepanjangan. Dalam waktu dekat ini di akan kekota saya, dan dia minta untuk bertemu. Sayapun bilang, udahlah gak usah ketemu-ketemuan lagi, itu hanya akan menyakiti kita berdua. Tidak ada yang kebetulan… itu pikir kami… Dia mengajak saya merewind setiap kejadian, dan dia mengajak saya berfikir bagaimana mungkin ini terjadi lagi, dan dia berfikir kehadiran saya adalah pesan dari Tuhan agar dia memperjuangkan saya, semua pikiran-pikiran konyol pun dia tuangkan melalui setiap pesan. Hingga dia mengajak saya untuk berjuang mendapatkan kebahagiaan kami, dia mengajak saya berjuang agar kami dapat menikah…
Saya pun sempat berfikir tidak waras, saya pun sempat berfikir saya ingin merebut kebahagiaan saya, saya pun sempat berfikir saya ingin menerima ajakannya. Tapi akhirnya hati kecil saya yang berbicara, dan saya pun menuangkannya lewat pesan ke dia dan menuliskan :
“Saya tidak mau… Saya tidak mau mendapatkan kebahagian sementara ada hati lain yang menangis. Saya tidak mau mendapatkan kebahagiaan sementara ada orang lain yang tersakiti” Saya menutup semua dengan menuliskan pesan…
“Thanks for all everything… hampir 1/3 bagian hidup saya, saya habiskan untuk berkutat dengan perasaan saya untuk kamu.
Sukses selalu ya…
I love you…”
Saya pun menutup semua akses komunikasi saya, dan kembali berjuang untuk membunuh setiap memori dengannya. Kutundukkan kepalaku, kedua tanganku pun menengadah dan berucap “Ya Allah tamatkan rasa ini”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar